29 July 2008

Pijar Publishing Berikan Penghargaan kepada SMA N 6 Singkawang


Hujan yang jatuh di hari minggu kemarin, menjadikan cuaca senin pagi (28/7) di Kota Singkawang terasa lebih dingin dari biasanya. Embun yang bercampur dengan sisa hujan membuat dedaun terlambat mengering. Seperti biasanya, menjelang jam tujuh pagi, meski hawa dingin menyerap pepori, Kota Singkawang tetap memperlihatkan antusiasme masyarakatnya dalam menyambut hari. Jalan raya ramai dilewati anak-anak sekolah, guru, pegawai pemerintahan, karyawan swasta, pun tidak ketinggalan penjual sayur keliling. Seperti biasanya pula, setiap senin pagi, instansi-instansi pemerintahan dan juga sekolah-sekolah melakukan apel pagi atau yang biasa disebut upacara bendera.
Pelan-pelan matahari mulai memancarkan sinarnya. Awan abu-abu perlahan menyingkir, menjadi terlihat begitu cerah. Di sekolah-sekolah Kota Singkawang, semenjak pukul 07.00 wib, upacara bendera berlangsung seperti biasanya. Tetapi ada yang tidak biasa terjadi pada upacara senin kali ini, di SMA N 6 Singkawang.
Di barisan dewan guru staf administrasi sekolah tampak dua orang yang untuk pertama kalinya mengikuti upacara bendera di sekolah yang terletak di Kecamatan Singkawang Utara tersebut. Namun dua orang ini bukanlah tenaga pengajar ataupun staf TU yang baru bertugas di SMA N 6, bukan pula peninjau dari lembaga pemerintahan. Dua orang ini adalah tim dari Pijar Publishing, Toni (Ketua Tim Kampanye Baca Tulis Kota Singkawang) dan Pay Jarot Sujarwo, penulis buku sekaligus pengelola Pijar Publishing, yang beberapa hari lalu juga berkunjung ke SMA N 6 Singkawang dalam agenda memotivasi para siswa untuk lebih mencintai dunia baca tulis.
“Hari ini kita kedatangan tamu spesial.” Ujar Hasfidayanti, S.Pi, yang saat itu bertugas sebagai Pembina Upacara.
Sekitar 30 menit upacara bendera selesai. Namun para siswa tidak serta merta membubarkan diri. Tak lama, dari pengeras suara terdengar bahwa akan ada sambutan dari tamu spesial yang tadi disebutkan. Yang dipanggil kemudian berdiri di tengah para siswa sambil memegang micrhopone. Memberikan ucapan salam, mengucapkan terima kasih kepada pihak SMA N 6 Singkawang, kemudian membaca surat resmi yang dibawanya.
Tamu spesial yang disebutkan Hasfidayanti tadi tak lain dan tak bukan adalah Penulis Muda kelahiran Pontianak yang juga terkenal sebagai motivator di dunia kepenulisan bagi para remaja, Pay Jarot Sujarwo.
Dalam sambutannya di hadapan kepala sekolah, dewan guru, staf administrasi, dan seluruh siswa ini, Pay Jarot mengatakan bahwa maksud dan tujuannya datang kembali ke SMA N 6 Singkawang, selain untuk berterima kasih kepada pihak sekolah yang telah memfasilitasi kegiatan kampanye baca tulis, juga ingin memberikan penghargaan secara resmi kepada Pihak SMA N 6 Singkawang, sebagai fasilitator terbaik di antara sekolah-sekolah yang dikunjungi.
Menurut Pay, Pijar Publishing memberikan penghargaan ini karena SMA N 6 dinilai sebagai sekolah yang paling antusias, baik dari penyambutan pihak sekolah, kuantitas jumlah peserta, dan semangat para siswa. Ada lima sekolah yang dikunjungi, lanjut Pay Jarot, dalam program rutin Pijar di awal tahun ajaran ini di Kota Singkawang, yakni SMA N 2, SMK Mudita, SMA N 6, SMA N 1, MAN Model Kota Singkawang.
“Semoga penghargaan yang diberikan akan semakin memotivasi para siswa untuk lebih bergairah dalam dunia baca tulis. Sebab manusia yang berkualitas, adalah manusia yang akrab dengan bahan bacaan dan mau mengaplikasikannya dalam tulisan. Dan saya percaya hal itu dimiliki oleh siswa-siswi di SMA N 6” Ujar Pay..
Selesai memberikan sambutannya, Pay dari Pijar Publishing kemudian memberikan piagam penghargaan kepada kepala SMA N 6, Suhadi, S.Pd yang disambut gemuruh tepuk tangan seluruh peserta upacara. Selain piagam penghargaan, Pay Jarot juga memberikan sepuluh eksemplar buku terbitan Pijar Publishing berjudul Air Mata Bintang Kutub Utara secara cuma-cuma untuk menjadi penambah koleksi perpustakaan di sekolah tersebut
Sementara itu Suhadi mewakili pihak sekolah menyampaikan rasa terima kasihnya atas penghargaan yang diberikan Pijar Publishing. Suhadi mengaku bahwa dirinya tidak pernah mengira bahwa SMA N 6 yang menjadi pilihan sebagai fasilitator terbaik. Dirinya merasa dalam memberikan sambutan pada saat kedatangan Pay beberapa hari lalu, bukanlah sambutan istimewa. Namun Suhadi mengakui bahwa meskipun berlokasi jauh dari pusat kota Kelurahan Sungai Bulan, Kecamatan Singkawang Utara, namun SMA N 6 memiliki antusiasme yang cukup tinggi baik dalam mengikuti proses belajar mengajar, maupun kegiatan ekstra kurikuler.
“Semoga penghargaan kali ini tidak membuat kami tinggi hati, melainkan semakin termotivasi untuk mencetak prestasi.” Ujar Suhadi yang juga mendukung agenda berikutnya yakni kerja sama pihak sekolah dengan Pijar Publishing untuk menyelenggarakan lomba kepenulisan tingkat internal sekolah.
Hal senada juga disampaikan oleh Ibu Salbiah, pengampu pelajaran Bahasa Indonesia yang mengatakan bahwa SMA N 6 memiliki siswa-siswa dengan potensi menulis yang tidak kalah dengan sekolah-sekolah favorit lainnya di Kota Singkawang ini.*** (rilis)

Foto: Pay Jarot Sujarwo memberikan piagam penghargaan kepada kepsek SMA N 6 Singkawang

[+/-] Selengkapnya...

Seminggu Penuh Motivasi Baca Tulis di Singkawang


Tampaknya setelah Pontianak, Kota Singkawang menjadi target kedua bagi penulis muda kelahiran Kalimantan Barat, Pay Jarot Sujarwo yang dengan getol memotivasi para remaja untuk mencintai dunia baca tulis. Setiap tahun, dalam program Kampanye Baca Tulis yang dilaksanakannya bersama Pijar Publishing ke sekolah-sekolah, selalu saja penulis buku Pontianak “teemager” Under Cover ini menyempatkan diri untuk berkunjung ke Singkawang.
Bahkan di awal tahun ajaran 2008/2009 ini Pijar Publishing terlihat lebih serius dalam menjalankan program motivasinya tersebut. Terbukti dengan dibentuknya tim Kampanye Baca Tulis Kota Singkawang yang tidak hanya turun di satu atau dua sekolah, melainkan tujuh sekolah sekaligus yang dilangsungkan selama seminggu berturut-turut, mulai dari hari selasa kemarin (22/7) sampai hari sabtu mendatang.
Toni, Ketua Tim Kampanye Baca Tulis Kota Singkawang mengatakan bahwa dirinya menyambut baik rencana Pay Jarot Sujarwo untuk mencerdaskan masyarakat Kota Singkawang melalui program yang diusung Pijar Publishing ini. Menurut Toni, mantan Ketua Senat STIE Mulia Singkawang ini, dirinya langsung menerima konsep yang ditawarkan oleh Pay untuk mengunjungi sekolah-sekolah yang ada di Singkawang.
“Beberapa bulan lalu saya sudah bertemu dengan Pay saat berkunjung ke sini (Singkawang, red) dan menyambut positif kegiatan yang dilakukannya.” Ujar Toni saat mendampingi Pay Jarot memotivasi para remaja di SMA N 2 Singkawang (22/7) kemarin.
Selanjutnya Toni menjelaskan bahwa selain SMA N 2 Singkawang, Tim Kampanye Baca Tulis Kota Singkawang juga akan membawa Pay Jarot Sujarwo untuk berkeliling ke sekolah yang lain, di antaranya SMK N 2 Singkawang, SMK Mudita, SMA Talenta, SMA N 1 Singkawang, MAN Model Singkawang, dan SMA N 6 Singkawang. Di sekolah-sekolah tersebut Pay yang juga dikenal sebagai motivator remaja di bidang kepenulisan, akan merangsang para remaja kota Singkawang untuk menulis dan mempublikasikan karya tulisnya.
Sementara itu Pay Jarot membenarkan bahwa kedatangannya kembali ke Kota Amoy ini, bukan sekadar mampir saja seperti pada masa-masa sebelumnya. Tetapi dirinya berniat akan membangun sebuah komunitas kepenulisan yang akan menjadi wadah penulis-penulis muda Singkawang untuk berkreativitas di dunia kepenulisan
“Selain kampanye baca tulis, Pijar bekerjasama dengan Dinas Pariwista, Dinas Pendidikan, dan KNPI Kota Singkawang juga akan menyelenggarakan seminar motivasi kepenulisan bertajuk The Power of Diary yang akan berlangsung tanggal dua dan tiga Agustus di Rumah Melayu Pentas Seni Budaya Singkawang dan Taman Pasir Panjang Indah Singkawang.” Ujar Pay sekaligus mengajak seluruh remaja Singkawang untuk mengikuti kegiatan tersebut, yang dihari pertama sosialisasi kegiatan sudah mendapatkan peserta lebih dari 60 orang
“Kita punya target sekitar 300an peserta, dan melihat antusiasme remaja Singkawang, insya Allah target tersebut dapat terpenuhi” lanjutnya.
Pay juga menambahkan bahwa setelah seminar motivasi The Power of Diary, dirinya bersama penggiat sastra Singkawang, khususnya yang masih berusia remaja akan mendeklarasikan Taman Belajar Menulis (TBM) Kota Singkawang.


Foto:
Atraktif : Aksi teaterikal Pay Jarot Sujarwo dalam memotivasi siswa di SMA N 2
Singkawang, (22/7) kemarin, membuat ratusan remaja di sekolah tersebut
terkesima dan bergairah untuk menggeluti dunia kepenulisan.

[+/-] Selengkapnya...

17 July 2008

Generasi Baru Sastra Kalbar

Semenjak meninggalnya sastrawan kenamaan Kalbar Odhy’s dan Yudhiswara beberapa tahun lalu, aktivitas kesusastraan di bumi Borneo Barat ini nyaris tidak memperlihatkan geliat yang berarti. Sepinya aktivitas berkesusastraan di Kalimantan Barat diperparah dengan sistem pembelajaran sastra di sekolah yang semakin hari semakin memprihatinkan.
Demikian disampaikan Pay Jarot Sujarwo Pontianak yang diundang menjadi narasumber pada acara sarasehan sastra yang diselenggarakan di Balai Bahasa Kalimantan Barat, jum’at (11/6) kemarin.
Penulis muda kelahiran Pontianak ini kemudian menjelaskan bahwa perlu ada aksi konkret yang dilakukan secara komprehensif oleh berbagai elemen untuk kembali membangun iklim kerkesusastraan di daerah ini.
“Membangkitkan gairah sastra tidak hanya cukup dengan karya-karya dari para sastrawan saja, peran kritikus dan apresian.” Ujar Pay kepada para peserta yang terdiri dari siswa SMA, guru, peserta duta bahasa, dan juga diikuti secara antusias oleh karyawan Balai Bahasa sendiri.
Dijelaskan juga oleh lelaki yang dalam minggu ini akan meluncurkan buku terbarunya berupa kumpulan puisi bersama dua orang guru Bahasa Indonesia bahwa meskipun pasca generasi Odhy’s geliat sastra terlihat sepi, namun bukan berarti mati. Menurut Pay, beberapa nama dari generasi muda Kalimantan Barat sempat muncul menghiasi cakrawala kesusastraan. Sebut saja misalnya Ahmad Azma DZ, Amrin Zuraidi Rawansyah, Saifun Salakim, Yophie Tiara, Irin Sintriana, Fredy, dan beberapa semangat dari generasi remaja untuk menseriusi dunia sastra
“Semangat generasi baru ini yang perlu diapresiasi oleh berbagai pihak. Sebab dengan tumbuh dan berkembangnya sastra dalam suatu masyarakat secara otomatis akan berpotensi semakin berkembangnya kepekaan sosial masyarakat.” Kata Pay.
Sementara itu salah satu peneliti Balai Bahasa Kalbar, Musfeptial mengatakan bahwa keberlangsungan proses kreatif sastra di masa sekarang tentu saja tidak terlepas dari sejarah sastra di daerah ini. Musfeptial mengatakan bahwa menurut penelitian munculnya karya sastra yang ditulis oleh sastrawan Kalbar dimulai sejak tahun 1954 dengan terbitnya karya dari Almarhum H. Munawar Kalahan di majalah Siasat. Di susul dengan beberapa nama lain yang membuktikan eksistensi karya berkualitasnya dikancah kesusastraan nasional seperti Bapak Yusack Ananda.
Menurut Musfeptial perkembangan sastra di Kalbar semenjak tahun 50-an memang mengalami pasang surut. Namun secara kualitas, lanjutnya, pada dasarnya Kalbar memiliki banyak sastrawan yang layak untuk diperhitungkan.
Dalam sarasehan tersebut, selain Almarhum Odhy’s dan Yudhiswara, Musfeptial juga menyebutkan beberapa nama seperti Mizar Bazarvio, Ellyas Suryani, Pradono, dan beberapa nama yang lain.
“Masa lalu memang sudah terjadi, namun sejarah itu akan tetap abadi. Dan sekarang adalah tugas generasi baru untuk meneruskan estafet perjalanan sastra di Kalimantan Barat.” Pungkas Musfeptial.

[+/-] Selengkapnya...

16 July 2008

Menonton Film G. 30 S/PKI

06.50 wib

“Tumben pagi-pagi sudah mandi, mau kemana?” Tanya Ika, pacarnya Mujidi. Ini adalah waktu paling pagi aku memutuskan untuk mandi selama aku berkunjung ke Singkawang dan menginap di tempatnya. Apalagi di musim hujan begini, kota yang dikelilingi bebukitan (kalau tak pantas disebut gunung) ini tentu saja berhawa dingin ketika pagi. Ya, sepanjang perjalananku ke Singkawang, kecuali jika ada agenda seperti kampanye baca tulis ke sekolah pada saat jam pertama, ini adalah waktu paling pagi aku berangkat mandi.
“Mau antre BBM.” Jawabku.
“Antriannya sudah sangat panjang.” Lanjut Ika, kekasih Mujidi yang merasa perlu merespon karena baru saja pulang dari beli sarapan bubur dan melewati SPBU Pasiran. Tapi tetap saja aku berangkat. Karena kalau tidak, percuma aku ke Singkawang jika harus menghabiskan waktu di rumah saja karena motor kosong bahan bakar. Mujidi adalah salah seorang wartawan lokal Kalimantan Barat, Borneo Tribune, Biro Singkawang. Sudah beberapa kali ini aku berkunjung ke Singkawang dan menginap di tempatnya.


06.57 wib
Sampai di depan SPBU Pasiran. Gila. Tempat pengisian bahan bakar itu penuh. Tidak hanya oleh kendaraan roda dua, empat, enam dan delapan. Tapi juga sepeda yang membawa jirigen berbagai macam ukuran. Tidak cuma dipenuhi kendaraan, tapi juga dipenuhi manusia yang menumpukkan jirigen yang mereka bawa. Alamak. Tidak cuma di dalam pagar yang mngitari SPBU tetapi antrean panjang sampai jauh memenuhi separuh badan jalan hingga ujung jalan Diponegoro. Entah sudah berapa jam mereka di sini. Lalu apakah aku kemudian mengurungkan niat untuk ikut mengantre? Misalnya mencari SPBU di tempat lain, di jalan Ali Anyang atau di wilayah Roban, atau mencari kios-kios kecil di pinggir jalan? Jawabannya sudah pasti TIDAK, karena kondisinya akan sama: SPBU penuh dengan orang-orang.
Aku ikut ambil bagian. Posisiku tak jauh dari pintu keluar. Aku memperkirakan dua jam dari sekarang baru bisa mengisi bahan bakar yang harganya belum lama dinaikkan oleh pemerintah.
Tiba-tiba saja aku teringat film G. 30 S/PKI, yang digarap oleh almarhum Arifin C. Noer yang proses penggarapannya penuh tekanan dari tentara yang demi terselenggaranya kebohongan sejarah yang demi melanggengkan kekuasaan yang film itu harus diputar setiap akhir September yang orang-orang pun diharuskan menonton film itu yang tak terkecuali anak-anak kecil yang tak terkecuali aku.
Orang-orang berbaris ke belakang. Begitu panjang. Berharap dapat jatah minyak tanah dengan harga yang begitu mahal. Anak-anak bertelanjang dada dengan kaki tak beralas ditumbuhi koreng, dikerubuti lalat. Terdengar bayi yang meraung-raung minta susu ibunya yang telah lama tidak menetes. Beberapa lelaki dewasa terlihat berteriak-teriak memaki. Ada yang menyerobot antrean. Warna di layar kaca cuma hitam putih. Tapi aku menyaksikan warna kelabu yang begitu pekat.
“Kenapa mereka berjejer seperti itu pak?” Tanyaku
“Negara sedang inflasi.” Bapakku menjawab tanpa berpaling. Khusuk menyaksikan bengkoknya sejarah demi nasionalisme di televisi.
Inflasi? Apa itu inflasi? Tentu saja aku yang delapan tahunan tidak mengerti apa itu inflasi. Dan cuma kulanjutkan di dalam hati. Aku ikut-ikutan bapak kembali memelototi televisi. Ya, aku tak tau inflasi. Yang aku tau di dalam kotak televisi itu cuma orang-orang miskin. Juga ada derap sepatu dan senapan tentara. Asap-asap rokok mengepul dari mulut penuh benci. Dinding sirap yang terselip arit. Tangisan anak jendral. Petani-petani yang dipaksa membunuh Tuhan. Aku yang delapan tahunan tak tau apa itu inflasi. Kecuali darah yang menyembur dari kotak televisi.
“Pak, sampai kapan orang-orang itu mengantre?” Tanyaku lagi.
“Sampai tak ada lagi komunis di negara ini.” Bapakku masih khusuk. Matanya tajam menikam televisi.
Apakah orang-orang berdesakan itu karena salah para komunis? Kembali aku Cuma bertanya dalam hati.

07.21 wib
“Woi maju, jangan diam ajak di sie!” (bahasa Singkawang, artinya jangan diam aja di situ)
Seseorang di belakangku berteriak. Ups, aku tersadar. Ternyata sepeda motor di depanku sudah dari tadi bergerak maju. Sebegitu larutkah aku dengan orang-orang yang mengantre di dalam kotak televisi di tiap tahun di akhir september?
Kudorong motorku dengan kaki. Dengan kaki? Apakah kakiku tanpa alas, penuh koreng dan lalat-lalat? Kuperhatikan kaki orang-orang di depanku. Kuperhatikan sekeliling. Kuperhatikan warna kelabu yang begitu pekat di wajah orang-orang. Kuperhatikan kaca spion. Warna kelabu yang begitu pekat itu menempel di wajahku.

08.03 wib
Motorku belum terlalu jauh bergeser ke depan. Motor orang-orang juga. Jauh di depan sana orang-orang terlalu padat. Lalu ada orang berteriak. Keras. Sangat keras. Orang-orang dari kejauhan memanjangkan lehernya. Bertanya-tanya apa yang terjadi. Meski banyak yang menghalang-halangi, tapi mataku dapat menangkap sebuah jerigen kosong dibanting. Seorang perempuan terperanjat. Beberapa lelaki berseragam coklat mendekat ke kerumunan. Di jalan raya, supir bus antar kota memencet klakson.
“Semua tenang... semua tenang. Karena persediaan BBM yang tebatas, kita hanya melayani kendaraan bermotor. Jirigen, botol, plastik, ataupun yang lainnya tidak kami dilayani.” Perintah dari pengeras suara sebuah mobil polisi yang sebelum aku datang sudah ada di situ. Kondisi kacau. Petugas SPBU menghentikan mengisi BBM. Yang tadi berteriak-teriak dan membanting jirigen dibawa beberapa polisi ke tepi. Wajah beberapa orang perempuan terlihat takut. Tak lama, suasana tenang kembali. Tenang? Benarkah?
Lalat-lalat mengerubungi kaki telanjang bocah-bocah yang dipenuhi koreng.

08.45 wib
Posisiku sudah semakin ke depan. Tak lama lagi aku akan sampai. Ah, aku kurang yakin kalau tak lama lagi. Rasanya koreng di kaki ini sudah semakin perih.
“Apa... Petramak sebelas ribu? Padahal kemarin masih sepuluh ribu?” Seseorang di sebelahku mengumpat. Lehernya panjang menjulur ke depan. Bukan hanya dia yang terkejut. Aku juga. Orang-orang juga. Kucoba mencari tau. Ternyata sejak pagi tadi yang dijual bukan premium. Tapi petramak. Katanya, karena cuaca kapal pengangkut BBM jenis premium dari Jawa belum bisa merapat. Kenapa? Tak ada yang menjawab. Karena cuaca atau karena ditimbun? Juga tak ada yang menjawab. Karena aku cuma bertanya dalam hati
Aku mulai berhitung. Berapa rupiah yang harus kukeluarkan demi motorku tetap bisa berjalan? Gila. Satu liter sebelas ribu rupiah. Ini bukan harga dari pusat. Ini harga seenaknya dari SPBU setempat.
“Tidak boleh pertamina menaikkan harga seenaknya!” Kata lelaki lain di depanku.
“Ini melanggar peraturan!”
“Ini korupsi terang-terangan di atas penderitaan rakyat!”
“Tidak adil!”
Demi keterkejutan karena harga yang tiba-tiba menjadi lebih mahal dari harga standar nasional, orang-orang menjadi berang. Tapi orang-orang yang sudah berjam-jam bahkan katanya ada yang sampai berhari-hari mengantre, tetap saja membeli. Tetap saja orang-orang merogoh sakunya. Begitu juga aku yang sebentar lagi mendapat giliran. Tetap saja menunggu. Tetap saja membiarkan lalat-lalat terus mengerubuti koreng di kakiku.

09.16 wib
Tinggal dua motor lagi di depanku. Tapi rasanya terlalu lama. Sangat lama. Kusempatkan mengeluarkan telephone seluler. Mengetik pesan singkat buat bapak.
“Pak, bukankah komunisme sudah dilarang sejak lama di negara ini, tetapi kenapa masih banyak orang yang mengantre?”
Beberapa saat kutunggu balasan dari bapak. Tapi tak juga ada pesan masuk di selulerku. Hingga akhirnya giliran tangki motorku yang diisi.
“Tiga puluh delapan ribu.” Kata perempuan berbaju orange yang juga berkeringat seperti orang-orang. Sempat kudengar ia mengeluh sakit pinggang. Ah, sejak tadi lebih banyak orang yang sakit pinggang, bahkan mungkin sakit hati.

09.19 wib
Selesai sudah. Lebih dari dua jam. Kutinggalkan SPBU Pasiran menuju jalan Diponegoro No.7 Singkawang. Tempat Mujidi menginap. Tempat Mujidi menulis berita untuk setiap hari dikirimkan ke redaksi di Pontianak. Belum saja motorku belok ke jalan Diponegoro, selulerku berbunyi. Balasan SMS dari Bapak.
“Maaf, Bapak berbohong. Sampai sekarang pun Bapak tidak berani jujur memberitahumu, kenapa orang-orang masih mengantre.”
Aku maklum dengan jawaban bapak. Sebab dia takut. Sebab dia takut. Sebab dia sangat takut. Ya, bapak tak lebih dari PNS rendahan yang sebisa mungkin membela pemerintah, lembaga tempatnya bekerja, meski dia tau bahwa dalam proses antrean sejak tahun 1965 sampai hari ini, pemerintah juga berulah. Tapi kenapa dulu bapak menyalahkan komunisme? Lagi-lagi aku cuma bertanya kesal dalam hati. Sebab sudah tau jawabannya. Bukan cuma bapak, tapi film yang digarap Arifin C. Noer yang dalam keadaan tertekan yang teramat sangat, mampu menyihir orang-orang untuk juga menyalahkan komunisme.

09.26 wib
Aku sampai di depan kantor harian Borneo Tribune biro Singkawang. Tempat Mujidi menginap dan menuliskan hasil liputannya, untuk dikirim ke redaksi di Pontianak. Di situ pula aku menumpang menginap selama di Singkawang. Entah sampai berapa hari. Rencana mau lanjut ke Sambas. Tapi koreng di kakiku rasanya teramat perih.
“Dari mana?” Tanya Mujidi yang sudah rapi, seperti wartawan-wartawan kebanyakan yang biasa nongkrong di Pemkot. Begitulah wartawan di daerah ini. Tapi tidak semuanya kok. Mujidi sudah rapi. Bersiap memburu berita, untuk kembali pulang, menuliskannya, lalu mengirimkannya ke kantor redaksi di Pontianak. Setiap hari.
“Dari menonton film G. 30 S/PKI” Jawabku setelah memarkir motor dan berjalan menuju teras dengan terpincang-pincang. Lalat-lalat masih mengerubuti koreng di kaku

Singkawang, 15 Juli 2008

[+/-] Selengkapnya...

11 July 2008

HANYA MENDUNG SAJA DI LUAR

hanya mendung saja di luar, menakut-takuti
para pejalan kaki yang beranjak meninggalkan
masa lalu. sesekali angin menerabas.
mempercepat jejak langkah karena tetes air
akan menjelma sejarah.

hanya mendung saja di luar, menyedih-sedihkan
angka-angka kalender yang terus mengganti isi etalase.
“barang baru…. barang baru…. masih panas”
lalu ada mode baru. trend baru. gaya baru.
lalu langkah semakin cepat. lalu mendung semakin pekat

hanya mendung saja di luar
ketika catatan peristiwa di angka kalender yang lewat
tak pernah lagi diingat

“lihat, etalase itu semakin angkuh.”

pontianak, 11 juli 2008



[+/-] Selengkapnya...

kabar sastra dari ruang kelas

“Di dalam kelas ini siapa yang tidak suka sastra?”
Pertanyaan itu kerap saya lontarkan kepada teman-teman remaja (SMP/SMA) ketika saya berkesempatan mengunjungi sekolah mereka dalam agenda kunjungan sastra ke sekolah-sekolah yang telah saya lakukan sejak tahun 2005 lalu. Setelah pertanyaan tersebut terlontar, satu persatu dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan-tangan para siswa ini mengacung ke atas. Jumlahnya cukup banyak. Bahkan lebih dari separuh dari jumlah keseluruhan siswa.

Sejujurnya, saya tidak terlalu terkejut melihat betapa banyaknya tangan-tangan yang mengacung tersebut. Hal ini sangat bisa saya pahami. Kepada teman-teman remaja tersebut saya sampaikan bahwa remaja tidak menyukai sastra tidak hanya terjadi di kelas ini, tetapi juga di kelas-kelas yang lain di Kalimantan Barat ini (saya sudah mengunjungi hampir 40 sekolah dengan pertanyaan awal yang sama dan mendapat jawaban yang sama pula). Bahkan siswa tidak suka sastra, bisa saja tidak hanya terjadi di Kalimantan Barat, tetapi tidak menutup kemungkinan di daerah-daerah lain pun juga mengalami hal yang sama.
Diakui bahwa sampai hari ini dunia kepenulisan sastra masih dianggap sebagai “makhluk asing” oleh sebagian masyarakat remaja yang nota bene masih berusia sekolah. Ada banyak penyebab kenapa hal tersebut bisa terjadi. Di antaranya adalah: metode pembelajaran sastra di dalam kelas yang tak lebih dari persoalan teori, yang tak jarang mengabaikan kemampuan siswa mengapresiasi karya, dan diperparah dengan kompetensi guru pengampu mata pelajaran yang kurang memadai.
Selain di dalam lingkungan pendidikan formal, di lingkungan masyarakat pun, image dunia sastra masih dianggap sebagai dunia yang sebaiknya tidak digeluti, karena berpotensi terhadap pengaruh masa depan yang suram. Orang-orang yang berkecimpung dalam dunia sastra atau sebut saja sebagai sastrawan, sering dianggap sebagai kaum pengkhayal yang tidak realistis, serta masih banyak alasan lain yang menyebabkan sastra bukan hanya tidak ingin di kenal oleh sebagian masyarakat, bahkan kalau perlu dijauhi. Hal ini mengakibatkan gairah masyarakat untuk membaca sastra menjadi begitu memprihatinkan.
Padahal – seperti banyak diungkapkan pengamat, pecinta ataupun sastrawan itu sendiri – bahwa sastra merupakan sumber nilai moral yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia dengan bahasa sebagai modal utama. Hal ini menyiratkan betapa pentingnya ilmu sastra bagi setiap individu manusia. Pertanyaannya adalah, kalau sastra merupakan sumber nilai moral yang menggunakan bahasa sebagai alat utama, kenapa sampai hari ini sastra masih dianggap sebagai “makhluk asing”?
Sebelum tulisan ini saya buat, beberapa waktu lalu saya mendapat pesan dari teman-teman Balai Bahasa untuk menuliskan persoalan “Generasi Baru dan Sastra Kalbar, baik dari sisi historis maupun kekinian”. Seketika setelah membaca pesan singkat tersebut saya langsung bertanya dalam hati kepada diri sendiri, apakah saya cukup kompeten untuk menyampaikan persoalan perjalanan sejarah sastra di Kalimantan Barat? Ya, berulang kali pertanyaan itu saya lontarkan kepada diri sendiri, dan saya punya alasan yang cukup kuat kenapa harus bertanya berulang-ulang.
Pertama, keterlibatan saya di dunia kepenulisan sastra di Kalimantan Barat baru dimulai sejak tahun 2005 lalu (dengan penerbitan buku kumpulan cerpen bersama berjudul Nol Derajat), dan keterlibatan itu pun tentu saja belum dapat disebut bahwa saya merupakan salah satu pelaku sastra di Kalimantan Barat. Buku kumpulan cerpen Nol Derajat hanya sebuah buku berukuran saku yang dicetak secara independent dalam jumlah terbatas dan disebarkan juga di kalangan terbatas. Masih perlu proses yang cukup panjang untuk benar-benar bisa disebut “sudah nyemplung” dalam proses kepenulisan sastra di Kalimantan Barat.
Kedua, saya sangat jarang membaca buku-buku sastra yang ditulis oleh para sastrawan Kalbar. Hal ini bukan berarti di Kalbar tidak ada sastrawan, karena dari banyak cerita yang saya dengar, sejak tahun 70an, di bumi Borneo Barat ini sudah banyak bemunculan para penulis karya sastra bahkan tidak jarang tulisan-tulisan tersebut terbit di media massa nasional. Pernah pula saya mendengar bahwa pada dasarnya sudah banyak buku-buku yang diterbitkan oleh para sastrawan Kalbar, baik secara bersama maupun individu. Dalam banyak perbincangan soal sastra pun, nama-nama sastrawan Kalbar sering disebut-sebut entah apakah karena sekadar ingin beromantisme dengan masa lalu, atau lebih untuk memotivasi generasi penerus supaya mampu melakukan seperti apa yang telah dilakukan generasi terdahulu.
Ketiga, saya memang tidak mempunyai basic akademis yang memadai jika harus mengulas persoalan historis perjalanan sastra di Kalimantan Barat. Saya hanyalah mahasiswa keguruan yang tidak lulus di salah satu perguruan tinggi di Jogjakarta, dan pulang ke tanah lahir (Pontianak) untuk melakukan apa yang bisa saya lakukan. Menulis. Itu saja. Kalaupun apa yang saya tulis pada akhirnya dapat dikategorikan sebagai karya sastra, syukurlah, tetapi kalau pun tidak, ya syukurlah juga. Yang penting saya tetap menulis. Apapun bentuknya.
Namun bukan berarti saya sama sekali tidak peduli dengan sejarah kesuastraan di Kalimantan Barat. Karena bagaimanapun hari ini ada karena ada hari kemarin. Sebab, yang terpenting adalah sejarah sastra merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari perkembangan sastra itu sendiri. Cuma dalam kesempatan kali ini, rasanya kurang pas kalau saya harus membicarakan persoalan sejarah sastra di Kalimantan Barat.
Kembali ke persoalan awal tulisan ini, yakni kenapa remaja Kalimantan Barat saat ini sebagian besar kurang tertarik dengan dunia sastra. Selain beberapa alasan yang sudah saya kemukakan, mulai dari persoalan metode pengajaran di dalam kelas, lemahnya kompetensi guru, image negatif dari masyrakat, saya juga berpikir bahwa sampai saat ini belum ada yang mampu mengkomunikasikan ke kalangan remaja Kalimantan Barat, tentang bagaimana menumbuhkan kembali iklim berkesusastraan di Kalimantan Barat. Dari beberapa kali interaksi saya dengan para remaja, kemudian saya dapat menarik sebuah benang merah, bahwa pada dasarnya teman-teman remaja kita bukannya tidak tertarik, melainkan kebanyakan dari mereka tidak memahami seluk beluk dunia sastra.
Sastra yang mereka ketahui, tak lebih dari sekadar bagian dari mata pelajaran Bahasa Indonesia yang isinya penuh dengan teori-teori yang perlu dipelajari supaya mendapat nilai yang baik dan pada akhirnya lulus ujian. Tak jarang juga remaja kita menganggap dunia sastra tak lebih dari persoalan cengeng-cengengan, dan tidak realistis. Event-event yang berkaitan dengan kesusastraan pun masih terkesan bersifat seremonial belaka yang habis begitu saja tanpa tindak lanjut yang berarti.
Saya berpendapat bahwa mencari metode yang tepat untuk mampu mengkomunikasikan kembali hakikat sastra sekaligus memotivasi para remaja, sebagai generasi baru perjalanan sastra di Kalimantan Barat (kalau kita sama-sama sepakat untuk menjaga iklim berkesusastraan di daerah ini tetap ada) rasanya lebih tepat ketimbang kita melulu berbicara persoalan romantisme masa lalu dan tak henti-hentinya menyalahkan dengan realitas yang sudah terlanjur terjadi ini. Karena jika para remaja sudah mulai termotivasi dan pelan-pelan mulai bisa memaknai dunia sastra sebagai dunia yang mampu membuat kita peka terhadap diri sendiri dan lingkungan sosial demi menuju manusia berkualitas, bukanlah hal yang sulit untuk menanti karya-karya berkualitas dari generasi baru kesusastraan di Kalimantan Barat.
Kita boleh bebesar hati sedikit karena pada dasarnya peristiwa berkurangnya minat masyarakat terhadap dunia sastra tidak hanya terjadi di Kalimantan Barat saja, tetapi ini juga berlaku di segenap wilayah nusantara bernama Indonesia ini. Bahkan dalam sebuah kesempatan diskusi yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia di Semarang dalam rangka peringatan hari wafat Chairil Anwar 2008 lalu, Putu Wijaya sempat berkomentar bahwa Sastra Indonesia dikatakan sehat jika prasyarat pendukung terpenuhi, antara lain ada sastrawan, karya, kritikus, penerbit, apresian, dan proses pembelajaran.
Coba kita telaah apa yang diungkapkan Putu Wijaya ini dengan kondisi kesusastraan di Kalimantan Barat sendiri. Dari beberapa prasyarat pendukung yang disampaikan Putu, barangkali Kalbar hanya punya sastrawan yang menuju ketidakproduktivan dalam berkarya. Sementara prasyarat pendukung lain, nyaris tidak ditemukan. Lalu bagaimana dengan kritikus sastra di Kalbar, yang menjadi penjembatan antara karya sastra dengan para apresian? Sampai hari ini, dapat dipastikan Kalimantan Barat tidak memiliki kritikus sastra. Ya, tidak satupun! Padahal kritikus merupakan faktor utama sebuah iklim berkesusatraan yang sehat bisa terselenggara.
Lalu bagaimana dong?
Saya masih beranggapan bahwa sekolah merupakan salah satu solusi awal untuk memperkenalkan sastra yang sebenar-benarnya sastra kepada para siswa. Jika pada kenyataannya sampai hari ini sekolah belum mampu berfungsi maksimal, bahkan sangat jauh dari apa yang diharapkan, berarti harus ada perubahan besar-besaran mengenai pembelajaran sastra disekolah.
Mengapa pembelajaran sastra di sekolah menjadi penting untuk dipersoalkan? Sawali Tuhusetya, seorang penulis fiksi dan juga guru sebuah SMP di Kendal, Jawa Tengah mengatakan bahwa setidaknya ada dua argumen yang layak dikemukakan. Pertama, karya sastra dianggap mampu membuka “pintu” hati pembacanya untuk menjadi manusia berbudaya, yakni manusia yang responsif terhadap lingkungan komunitasnya, mengukuhi keluhuran dan kemuliaan budi dalam hidup, dan berusaha menghindari perilaku negatif yang bisa menodai citra keharmonisan hidup. Hal itu bisa terwujud manakala seseorang memiliki tingkat apresiasi sastra yang cukup. Artinya, ia mampu menangkap pernik-pernik makna yang tersirat dalam karya sastra dan sanggup menikmati “menu” estetika yang terhidang di dalamnya.
Kedua, sekolah diyakini sebagai institusi pembelajaran dan basis penanaman nilai-nilai moral dan budaya kepada siswa. Dari sisi ini, sekolah diakui sebagai ajang sosialisasi yang tepat untuk memperkenalkan sastra kepada para siswa, sehingga kelak menjadi generasi-generasi bangsa yang cerdas, pintar, dan terampil, sekaligus bermoral. Dengan kata lain, jika sekolah mampu melaksanakan pembelajaran sastra secara optimal, maka negeri kita akan dihuni oleh penduduk yang bermoral tinggi, berperikemanusiaan, dan sarat sentuhan nilai keluhuran budi serta kearifan hidup.
Jika di sekolah sastra sudah mampu diperkenalkan dengan baik kepada para siswa, maka bukanlah hal yang sulit untuk membuat mereka mencintai bahkan menekuni dunia sastra selepas dari sekolah. Lalu apakah hal ini sudah dirasa cukup? Tentu saja jawabannya tidak. Persoalan berikutnya adalah secara intens memotivasi para remaja ini. Motivasi yang dimaksud tidak hanya berupa kegiatan ceramah atau event-event formal belaka. Melainkan harus sesegera mungkin melakukan tindakan konkret, berbuat optimal sesuai kapasitas, kompetensi masing-masing untuk mencapai tujuan memajukan perkembangan sastra Kalbar.
Namun, bukan berarti saya “alergi” terhadap semua kegiatan-kegiatan formal yang mengatasnamakan sastra. Alergi saya hanyalah pada kegiatan-kegiatan yang sekadar menjalankan program reguler tanpa hasil, kecuali demi menghabiskan anggaran yang diperoleh dari pajak terhadap rakyat. Salah satu ciri khas kegiatan-kegiatan seperti ini adalah tidak adanya tindak lanjut setelah upacara khidmat penutupan. Kalaupun ada, ya, hanya jadi serentetan huruf dan kalimat di atas kertas yang diberi titel follow up, atau apapun namanya, namun sebulan dua bulan, seminggu dua minggu, bahkan sehari dua hari kemudian dilupakan dan menerima nasib sebagai lipatan kertas pengganjal meja.
Meski demikian, saya percaya bahwa sudah, sedang dan masih akan banyak kegiatan-kegiatan sastra yang memang pure beritikad memajukan perkembangan sastra Kalbar. Karena tanpa kegiatan-kegiatan tersebut, saling komunikasi antara elemen prasyarat pendukung, sebagaimana yang dimaksud oleh Putu Wijaya, akan sulit terjalin. Bagaimanapun juga, tindakan-tindakan konkret oleh semua elemen prasyarat pendukung tidak akan maksimal tanpa kesadaran untuk menyelaraskan langkah menuju tujuan dalam nama sinergisitas.
Pertanyaannya sekarang, sudahkah semua elemen prasyarat bersinergi? Pertanyaan (demi pertanyaan) lain masih terbentang didepan mata untuk disikapi. Masalahnya sekarang, setelah menyadari fenomena yang ada, apakah kita punya waktu untuk merenung guna merumuskan persoalan, menyusun solusi, bersinergi dan membuatnya menjadi kenyataan?
Semoga.



*) Disampaikan di acara sarasehan bengkel sastra, Balai Bahasa Kalimantan Barat, Jum,at 11 Juni 2008
**) Pay Jarot Sujarwo: Independent Writer, Pimpinan Lembaga Penerbitan Pijar Publishing.



[+/-] Selengkapnya...

08 July 2008

Remaja dan Sex Bebas

Terbit di harian Pontianak Post, 23 Juni 2008

Pontianak,- PERSOALAN perilaku menyimpang di kalangan remaja sudah bukan hal baru jika dikaitkan dengan dampak negatif dari globalisasi. Fenomena-fenomena seperti sex bebas yang dilakukan para remaja, tidak hanya terjadi di kota-kota besar, namun juga sudah masuk ke daerah-daerah, termasuk di Kabupaten Sintang. Hal tersebut jika tidak diantisipasi tentu saja akan membahayakan generasi remaja di masa mendatang. Demikian dikemukakan Pay Jarot Sujarwo, Penulis buku Pontianak "teenager" Under Cover, lalam siaran persnya, usai melangsungkan diskusi yang digelar
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Sintang, bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Sintang, di Aula SMAN 2 Sintang belum lama ini.

Diskusi yang mengangkat persoalan perilaku menyimpang remaja Sintang dikaitkan dengan peran pendidikan ini, sebagai bentuk respon dari buku yang sempat menghebohkan masyarakat Pontianak yang ditulis oleh Pay Jarot Sujarwo berjudul Pontianak "teenager" Under Cover, sekaligus sebagai upaya menyelamatkan generasi remaja yang notabene masih berusia sekolah di Sintang dari perilaku-perilaku negatif seperti sex bebas seperti yang dipaparkan Pay dalam bukunya.

Pay mengatakan, remaja merupakan generasi labil yang perlu banyak mendapat bimbingan positif dari berbagai elemen, termasuk kalangan pendidik. Sistim pendidikan yang berorientasi pada nilai, dan mengenyampingkan pengembangan moral siswa merupakan sistim yang perlu dikritisi.

“Ketika para remaja keluar dari lembaga pendidikan formal bernama sekolah dengan tingkat kelabilan yang tinggi dan minimnya pendidikan moral dari sekolah, akan berpotensi terhadap perilaku-perilaku menyimpang itu sendiri,” katanya.

Narasumber lainnya dari lembaga STKIP Sintang, Dra Salniati mengatakan bahwa fenomena yang dituliskan Pay dalam bukunya itu tidak hanya terjadi di Pontianak saja, melainkan juga di Kota Sintang.

“Pendidikan bukan satu-satunya lembaga yang bertanggung jawab akan hal tersebut tetapi lingkungan keluarga dan masyarakat juga memiliki peran penting dalam upaya menjadikan generasi remaja di Sintang. (zan)

[+/-] Selengkapnya...

07 July 2008

cooming soon, new book

seorang kawan pernah bilang, bahwa hidup ini puisi. waktu itu aku masih ga tau tentang puisi. lalu dia melanjutkan bahwa hidup tak lebih dari kekata yang digores penyair. dan tuhan adalah penyair segala penyair. duh, aku semakin bingung. belakangan aku menyadari bahwa sederet diksi yang ditulis dan kemudian menjadi puisi tak lebih dari introspeksi dan harapan tentang hidup. dan orang2 yang hidup pun menjadikan puisi sebagai metode paling ampuh untuk menetramkan jiwa.

komentar seorang kawan inilah yang kemudian menjadikan aku tertarik untuk pelan-pelan belajar menulis puisi. belajar memaknai hidup.

btw, sebentar lagi. mungkin seminggu setelah ini buku pijar publishing terbaru akan terit. setelah pontianak under cover, pijar kembali akan menerbitkan buku kumpulan puisi. 3 merawat kata, judulnya. ditulis tiga perawat kata' bruder gerardus, nano basuki dan pay jarot sujarwo. jika sudah terbit, buruan dinikmati, karena sekarang2 ini saja sudah banyak yang pesan. apalagi buku ini cuma dicetak sedikit. so, tidak ada yang bisa tanggung jawab, jika buku ini segera lenyap di pasaran.

salam


[+/-] Selengkapnya...

05 July 2008

rotasi detik

usiaku bertambah atau berkurang? gila. banyak pesan yang masuk. SMS, inbox e-mail, telp, dan berbagai macam cara lainnya. berucap selamat. ah, aku kok malah takut ya. takut menjadi tua. takut menjadi 27 tahun yang itu artinya 3 tahun lagi menjadi 30. yang itu artinya.... ah, aku tak mau membayangkannya
aku pengen melanjutkan perjalanan. itu saja sementara ini. ya, kalau bisa aku masih berusia 21 tahun yang bisa kemanapun tanpa harus berpikir panjang. tuhan, aku pengen kembali berusia 21 tahun. biar bisa mengunjungi ciptaanmu di jarak yang begitu jauh dari sini.

[+/-] Selengkapnya...

02 July 2008

Kampanye Baca Tulis di Sintang Disambut Antusias

terbit di harian borneo tribune, sabtu 28 Juni 2008

: 4 Sekolah Menjadi fasilitator.


Seperti apa yang pernah disampaikan Pay Jarot Sujarwo, penulis buku sekaligus motivator remaja di bidang kepenulisan, mengenai program motivasi baca di kalangan remaja yang dilakukannya semenjak tahun 2005 lalu, tetap akan berlanjut sampai kapanpun. Kali ini pengelola Pijar Publishing tersebut, setelah mengelilingi hampir 40 sekolah di Pontianak, Singkawang, Mempawah, bahkan pernah di undang di Kecamatan Menjalin, Kabupaten Landak, kembali bertolak ke Kabupaten Sintang, salah satu Kabupaten di Kalimantan Barat yang akan memekarkan diri menjadi Provinsi Kapuas Raya.


Perjalanan Pay Jarot ke Kabupaten Sintang, selain untuk memotivasi para remaja supaya akrab dengan dunia baca tulis, juga dalam rangka memenuhi undangan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Sintang, untuk menjadi narasumber seminar Pendidikan Peran Guru dalam Mengantisipasi Perilaku Negatif Remaja di Kabupaten Sintang, terkait dengan buku yang ditulisnya Pontianak “teenager” Under Cover, yang telah dilaksanakan pada hari rabu, (25/6) kemarin.
Pay Jarot mengatakan bahwa semula dirinya menduga bahwa apa yang alaminya di Sintang akan berbeda ketika dia memotivasi remaja di Pontianak atau pun Singkawang, yang nota bene memiliki akses informasi yang lebih maju. Tapi apa yang dialaminya kemudian ketika berhadapan dengan para remaja secara langsung, sama sekali jauh dari perkiraan. Antusiasme para remaja di Kabupaten yang berjarak 10 jam dari ibu kota Provinsi ini, tidak kalah seru dibanding sekolah-sekolah yang pernah dikunjunginya sebelumnya.
“Mereka (remaja di Kabupaten Sintang, red) punya semangat luar biasa, yang jika terus dipoles dengan motivasi dan berbagai bahan bacaan, sesungguhnya memiliki potensi menjadi manusia-manusia cerdas yang dapat membanggakan daerahnya kelak,” Ujar pemuda yang sudah tiga tahun ini akrab dengan dunia remaja.
Selanjutnya Pay menjelaskan bahwa di Sintang sendiri banyak kearifan-kearifan lokal yang dapat dikembangkan menjadi berbagai ide tulisan. Masalahnya barangkali kurang ada motivasi bagi para remaja untuk mengubah kearifan lokal tersebut menjadi tulisan yang begitu penting dan berharga. Sejarah Bukit Kelam misalnya, lanjut Pay, atau kehidupan multikulturalisme masyarakat Sintang, tingkah polah kehidupan melayu di pinggiran sungai Kapuas (Kampung Raja), tradisi masyarakat Dayak di pedalaman, musim panen sawit di lokasi transmigrasi, dan banyak hal lain yang jika dikembangkan menjadi ide tulisan, apapun bentuknya, ilmiah atau pun fiksi, akan berpotensi mengangkat citra daerah Sintang sendiri sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi.
“Nah, jika kita tidak bisa berharap banyak terhadap generasi tua, di tangan para remaja ini lah harapan merawat tradisi lokal di Sintang bisa ditumpukan.” Ungkap Pay.
Pada kedatangannya di Sintang, Pay Jarot berkesempatan mengunjungi empat sekolah yang berbeda karakter siswa, yakni SMA Panca Setya, Madrasah Aliyah Negeri Sintang, SMA Nusantara Indah dan SMA Negeri 3 Sintang, 4 hari berturut-turut sejak dimulai dari hari senin-kamis (23 – 26 juni 2008).
Mardawati, salah seorang guru di SMA Nusantara mengatakan bahwa pihak sekolahnya merasa beruntung sekali kedatangan motivator seperti Pay Jarot. Selama ini, lanjut Marda, karena padatnya jadwal dan kurikulum, serta tunturan standardisasi kelulusan pihak sekolah mungkin sedikit mengenyampingkan persoalan keterampilan siswa, khususnya di bidang kepenulisan.
“Tapi setelah kurang lebih selama dua jam bung Pay memotivasi sekitar 160an siswa di sekolah kami, bukan hanya siswa, tapi kami juga dewan guru merasa tergugah semangatnya bahwa kegiatan membaca dan menulis merupakan kegiatan yang mutlak dikuasai oleh manusia-manusia cerdas berkualitas,” Ujar Marda antusias.
Sementara itu Umi, salah seorang siswi di SMA Panca Setya mengaku bahwa selama ini dirinya memang memiliki hobi untuk menulis cerita-cerita fiksi, tapi karena tidak mengerti akan disalurkan kemana, cerita-cerita tersebut hanya menumpuk di rak buku kamar tidurnya.
“Saya bertekat untuk mengirimkan tulisan-tulisan saya ke media massa. Terima kasih bang Pay.” Ucap Umi bersemangat.
Antusiasme yang hampir serupa juga terjadi di MAN Sintang dan SMA N 3, yang kebetulan para siswanya sedang melaksanakan class meting setelah ulangan umum. Selain di empat sekolah tersebut di atas, Pay Jarot Sujarwo juga berkesempatan melakukan diskusi dengan lebih dari 200 mahasiswa Akper Sintang, Mahasiswa STKIP Sintang dan Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Ma’Arif (STAIMA) Sintang.
“Pengalaman di Kabupaten Sintang adalah pengalaman yang sangat mengesankan, selanjutnya kesan ini akan terus mengabadi jika di hari-hari mendatang akan lahir penulis-penulis berbakat dari Kabupaten Sintang.” Pungkas Pay Jarot Sujarwo yang setelah dari Sintang akan langsung bertolak ke Pemangkat.

[+/-] Selengkapnya...